Breaking News

Aku Selingkuh Dengan Atasanku, dan Membuat Suami ku binuh diri



Kisah DewasaSebut saja namaku Riska. Aku seorang istri dan juga wanita karir yang bekerja di salah satu instansi pemerintah di Sumatera. Sementara suamiku bekerja di salah satu BUMN. Secara ekonomi sebenarnya kami bisa dibilang cukup, namun gaya hidup terkadang membuat segalanya menjadi terasa kurang.

 


Aku dan suami telah dianugerahi seorang putra dan seorang putri yang pintar dan cakep-cakep. Kelihatan indah dan sempurna dari luar, tapi dari dalam, semuanya aku rusak karena perbuatanku sendiri.

Kisah ini bermula ketika suamiku dipindahtugaskan ke Ibukota. Anak-anak tetap tinggal bersamaku. Ada perasaan sedih karena harus berpisah jauh dari suami, tapi entah mengapa, di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, ada juga muncul perasaan senang. Saat itu aku tak tau mengapa.
Seiring berjalannya waktu, baru aku sadar mengapa perasaan senang itu ada. Sesaat sebelum suamiku pindah tugas, aku telah dekat dengan atasanku sendiri.
Sebut saja Andi. Dia adalah seorang laki-laki yang sudah dewasa secara usia. Namun masih belum menikah.
Semua berawal dari komunikasi masalah pekerjaan, akhirnya berlanjut ke masalah pribadi dan hal-hal sensitif. Setiap saat selalu terjalin chit chat via Whatsapp sekedar membicarakan kegiatan apa hari ini, sedang apa, udah makan apa belum, dan seterusnya. Bahkan saat makan dengan teman atau apapun kegiatanku aku sempatkan untuk mengirimkan foto kepadanya.
Hal ini berlanjut terus hingga beberapa bulan. Rasa sepi mulai membuatku hilang akal. Hingga akhirnya aku mengajaknya untuk melakukan hubungan badan. Yaa.. Aku yang mengajaknya duluan.
Namun ‘sialnya’ saat itu Andi menolaknya. Aku tau itu cuma trik lelaki untuk menunjukkan kalau sebenarnya dia adalah cowok baik-baik. Atau jika terjadi sesuatu, dia tidak mau disalahkan, alasannya karena sebenarnya dia tidak mau. Takut dosa? Tidak mungkin. Karena aku tau dia bukan cowok alim. Sholat saja tidak pernah.
Atau mungkin dia homo seksual?
Atau mungkin juga dia impoten?
Aku masih tak tau.
Chit chat berlanjut terus hingga larut malam. Akhirnya malam itu dia hanya minta foto telanjang dari diriku. Entah setan apa yang merasukiku, aku pun menyanggupinya.
Dinginnya malam tak mampu mengurungkan niatku untuk membiarkan tubuhku tanpa sehelai benangpun yang melekat. Foto terkirim..
Jujur hal ini bisa membuat diriku merasakan sensasi yang aneh dan membuatku terangsang hebat. Isi percakapan kami pun sudah diluar batas kewajaran, sangat jorok dan pasti membuat jijik orang yang membacanya
Ternyata hubungan ini menimbulkan kesenangan tersendiri bagiku. Aku mulai lupa daratan. Anak-anak mulai aku abaikan. Waktu untuk mereka pun berkurang drastis. Aku lebih memilih pulang malam dengan alasan lembur dan dekat dengan Andi daripada harus segera pulang dan bertemu anak-anak.
Sesampainya dirumah pun aku masih sibuk saja chit chat dengannya hingga larut malam. Via Whatsapp atau telpon sesekali daripada harus memperhatikan anak-anakku sendiri. Hingga pagi harinya aku merasa masih ngantuk karena tidur terlalu larut, tentu saja hal ini membuatku gampang emosi sama anak-anak kalau mereka rewel saat mau pergi ke sekolah.
Kasihan suamiku, setiap suamiku nelpon aku selalu marah-marah tanpa alasan yang jelas. Kesalahan kecil aku besar-besarkan. Hingga akhirnya suamiku depresi dan jatuh sakit.
Aku melakukan hal itu tentu ada tujuannya, agar suamiku enggan menelponku, sehingga aku bisa bebas. Kadang-kadang sengaja aku tidak mengangkat telpon suami saat aku lagi bersama Andi. Bahkan nama suamiku di contact telpon pun aku ganti. Agar saat suamiku menelpon, Andi tetap tenang dan tidak canggung saat bersamaku.
Selalu setiap pulang kantor, kami sempatkan untuk jalan berdua mencari cafe untuk sekedar nongkrong atau makan malam. Muter-muter keliling kota tanpa arah. Sebenarnya agar kami bisa bercumbu di dalam mobil. Karena kami masih takut untuk booking hotel saat itu. Takut ada yang lihat, karena kota tempat aku tinggal tidak terlalu besar.
Setelah hubungan kami berjalan 5 bulan, Andi mengajakku berhubungan badan, namun syaratnya harus di luar kota, sekalian liburan. Hal ini tentu membuatku kegirangan, aku seperti kesetanan dan hilang akal. Aku mulai browsing-browsing tempat wisata yang indah dan jauh dari tempat aku tinggal. Aku mulai mencari cara bagaimana agar suamiku tidak mengetahuinya dan tidak menghubungiku lagi.
Keesokan harinya, aku pun menelpon suamiku sambil marah-marah dan memaki-makinya tanpa alasan yang jelas, kemudian minta diceraikan. Aku meminta agar suamiku membawa salah satu dari anak kami untuk dibawa bersamanya dengan alasan anak-anak rewel dan aku tak sanggup mengurusnya. Juga meminta agar suamiku tidak menghubungiku lagi.
Ini kesempatan buatku, pikirku. Kemudian saat weekend, kami membuat rencana akan liburan ke Bali. Akhirnya perbuatan laknat itu pun terjadi. Selama dua hari di Bali entah sudah berapa kali kami melakukannya.
Setelah kejadian itu, aku semakin berubah, semakin lupa daratan. Aku sudah tidak menghormati suamiku lagi, tidak mengganggapnya ada.


 

Tidak ada komentar